Jumat, 02 November 2012

Pendekatan Komunikatif Pembelajaran Bahasa Indonesia


                                                                                                                                 
                                               Pendekatan Komunikatif

Pendekatan komunikatif terhadap bahasa terkait juga dengan gagasan tentang konteks ekstra linguistic, namun dengan cakupab yang lebih lengakap dan lebih luas, karena bertitik tolak dari komunikasi sebagai fungsi utama dalam penggunaan bahasa. Dengan menitik beratkan pada fungsi utama sebagai alat komunikasi itu, pendekatan komunikatif pada penyelenggaraan pembelajaran bahasa dan tes bahasa, tidak pertama-tama mengedepankan struktur bahasa dengan komponen-komponen dan unsur-unsurnya secara terpisah-pisah dan berkecil-kecil. Pendekatan komunikatif bahkan juga tidak berangkat dari pemahaman tentang penggunaan bahasa dengan sekedar mempertimbangkan peranan unsur-unsur ekstra linguistic, seperti halnya pendekatan pragmatic.pendekatan komunikatif menjangkau cakupan yang lebih luas dengan menelaah penggunaan dan pemahaman bahasa dari fungsi utamanya, yaitu melakukan komunikasi dengan mengandalkan penggunaan kemampuan komunikatif. Adapun kemampuan komunikatif itu mula-mula dipahami antara lain sebagai:
Kamampuan untuk memahami atau mengungkapkan apa yang sudah atau perlu diungkapkan, dengan menggunakan berbagai unsur bahasa yang terdapat di semua bahasa, dalam memahami ungkapan-ungkapan yang ada secara luwes dan disesuaikan dengan perubahan yang senantiasa timbul, tidakl semata-mata berdasarkan nilai-nilai konvensional yang sudah baku. Pemahaman terhadap kemamopuan komunikatif itu lebih lanjut dijabarkan sebagai terdiri dari penguasaan terhadap tiga komponen utama, masing-masing adalah (1) kemampuan bahasa (language competence), yang meliputi berbagai unsur bahasa yang digunakan dalam berkomunikasi lewat bahasa, termasuk struktur, kosa kata, prosodi , makna, (2) kemampuan strategis (strategic competence), yaitu kemampuan untuk menerapkan dan memanfaatkan komponen-komponen kemampuan bahasa dalam berkomunikasi lewat bahasa senyatanya, dan (3) mekanisme psiko-fisiologis (psychophysiological mwchanism), yaitu proses psikis dan neurologis yang digunakan dalam berkomunikasi lewat bahasa. Secara lebih singkat, padat, dan sekaligus lebih mudah dipahami, kemampuan komunikatif didefinidikan sebagai kemampuan untuk menggunakan bahasa sesuai dengan situasi nyata, baik secara reseptif maupaun secara produktif.
Penerapan kemampuan komunikatif pada tes bahasa komunikatif didasarkan pada rincian rumusan yang banyak digunakan, yang memahami kemampuan komunikatif itu sebagai terdiri dari kemampuan linguistic(linguistic competence), kemampuan sosiolinguistik (­sociolinguistic competence) kemampuan wacana (discourse competence), dan kemampuan strategis (strategic competence). Di tengah berbagai upaya untuk memahami dan mendefinisikan kemampuan komunikatif yang dimaknai sebagai upaya untuk menggunakan kemampuan linguistic yang cocok dengan situasi nyata kiranya dapat digunakan. Dalam keadaan semacam itu, intensitas pengembangan tes yang sepenuhnya komunikatifmasih amat terbatas ( Soenardi Djiwandono 2011: 27-29).
Pendekatan yang cukup populer dalam pengajaran bahasa adalah pendekatan komunikatif, pendekatan komunikatif ini lahir akibat adanya ketidakpuasan para prektisi atau pengajar bahasa atas hasil yang dicapai oleh metode tatabahasa-terjemahan, yang hanya mengutamakan penguasaan kaiidah tatabahasa, mengesampingkan kemampuan berkomunikasi sebagai bentuk akhir yang diharapkan dari belajar bahasa. Pendekatan ini baru dikenal di Indonesia pada era tahun 80-an, padahal perkembangannya di negara lain relative lebih lama.
Di Indonesia,n para ahli bahasa banyak menghabiskan waktu pada perdebatan definisi dari pendektan komunikatif itu sendiri, karena semua hal yang dianggap berhadil dalam pengajaran bahasa dikatakan menggunakan pendekatan komunikatif, yang baik. Tentunya saja hal tersebut masih memerlukan pemikiran yang lebih jauh. Pendekatan komunikatif memiliki ciri sebagai berikut:
a.       Acuan berpijaknya adalah membimbing peserta didik dan fungsi bahasa,
b.      Tujuan belajar bahasa adalah membimbing peserta didik agar mampu berkomunikasi dalam situasi yang sebenarnya,
c.       Silabus pengajaran harus ditata sesuai dengan fungsi pemakaian bahasa,
d.      Peranan tatabahasa dalam pengajaran bahasa tetap diakui
e.       Tujuan utama adalah komunikasi yang bertujuan,
f.       Peran pengajar sebagai pengelola kelas dan pembimbing peserta didik dalam berkomunikasi diperluas,
g.      Kegiatan belajar harus didasarkan pada teknik-teknik kreatif peserta didik sendiri, dan peserta didik dibagi dalam kelompok-kelompok kecil.
Pendekatan-pendekatan inilah yang kemudian memunculkan sejumlah metode baru dalam pembelajaran bahasa kedua. Bahasa makin ditegaskan fungsinya sebagai alat komunikasi. Oleh karena itu, pembelajar harus mampu berineraksi secara lisan maupun tulisan. Pembelajaran harus menguasai kaidah-kaidah  atau aturan-aturan kebahasaan, serta harus mampu menggunakannya dalam berbagai kegiatan sehari-hari. Dalam pelaksanaan opembelajaran pengajar dapat merancangproses pembelajaran, pengajar dapat membagikan bahan ajar yang berisi salinan atau kutipan dari surat kabar. Bahan ajar demikian diperlukan sebagai bahan ajar jenis dokumen otentik.pembelajar diminta untuk menggarisbawahi tujuan penulisan berita. Proses pem,belajaran ini prinsipnya adalah belajar memahami inti berita (Iskandarwassid, Dadang Sunendar 2008: 55-56).

              Latar belakang munculnya pendekatan komunikatif
1.      Ketidakpuasan akan beberapa teori bahasa: tradisional, struktural, dan mentalistik yang menekankan pembelajaran bahasa pada teori bahasa.
2. Adanya penekanan kurikulum dan kepentingan humaniora. Perubahan kurikulum saat itu masih tetap menekankan pada pemahaman teori-teori bahasa. Akibat dari kondisi ini, siswa secara teori mampu mengusai ilmu bahasa tetapi penggunaan bahasa dalam komunikasi masih kurang.
3. Muncul pendekatan komunikatif tahun 1980. Kemunculan pendekatan ini membawa angin segar dalam pembelajaran bahasa Indonesia di kelas.

Ciri-ciri pendekatan Komunikatif
1. Adanya kegiatan komunikasi fungsional dan interaksi sosial yang saling berkaitan erat
2. Pembelajaran berorientasi pada pemerolehan kompetensi komunikatif, bukan ketepatan gramatikal
3. Pembelajaran diarahkan pada modifikasi dan peningkatan murid dalam menemukan kaidah bahasa lewat kegiatan berbahasa
4. Materi pembelajaran berangkat dari analisis kebutuhan berbahasa pembelajar
Pentingnya faktor afektif dalam belajar bahasa

Dengan pembelajaran komunikatif, siswa diharapkan mangusai kompetensi komunikatif. Karakteristik kompetensi Komunikatif
1. Bersifat dinamis. Kompetensi bahasa selalu berubah-ubah menuju ke arah kemajuan sesuai dengan kemajuan dan berkembangan bahasa.
2. Meliputi bahasa lisan dan tulis. Siswa dianggap memiliki kompetensi bahasa apabila mereka menguasai bahasa secara lisan dan tulisan baik dalam tataran reseptif maupun produktif.
3. Bersifat kontekstual sesuai dengan kondisi yang ada.
4. Meliputi kompetensi bahasa dan performansi bahasa
5. Bersifat relatif
 
Prosedur Pembelajaran Komunikatif
Berkenaan dengan prosedur pembelajaran dalam kelas bahasa yang berdasarkan pendekatan komunikatif, Finochiaro dan Brumfit (dalam Azies, 1996), menawarkan garis besar kegiatan pembelajaran untuk tingkat sekolah menengah pertama. Garis besar tersebut sebagai berikut.
a. Penyajian Dialog Singkat
Penyajian ini didahului dengan pemberian motivasi dengan cara menghubungkan situasi dialog dengan pengalaman pembelajaran dalam kehidupan sehari-hari.

b. Pelatihan Lisan Dialog yang Disajikan
Pelatihan ini diawali dengan contoh yang dilakukan oleh guru. Para siswa mengulang contoh lisan gurunya, baik secara bersama-sama, setengah, kelompok kecil, atau secara individu.
c. Tanya-Jawab
Hal ini dilakukan dua fase. Pertama, tanya-jawab yang berdasarkan topik dan situasi dialog. Kedua, tanya-jawab tentang topik itu dikaitkan dengan pengalaman pribadi siswa.
d. Pengkajian
Siswa diajak untuk mengkaji salah satu ungkapan yang terdapat dalam dialog. Selanjutnya, para siswa diberi tugas untuk memberikan contoh ungkapan lain yang fungsi komunikatifnya sama.
e. Penarikan Simpulan
Siswa diarahkan untuk membuat simpulan tentang kaidah tata bahasa yang terkandung dalam dialog.
f. Aktivitas Interpretatif
Siswa diarahkan untuk menafsirkan beberapa dialog yang dilisankan.

g. Aktivitas Produksi Lisan
Dimulai dari aktivitas komunikasi terbimbing sampai kepada aktivitas yang bebas.
h. Pemberian Tugas
Memberikan tugas tertulis sebagai pekerjaan rumah
i. Evaluasi
Evaluasi pembelajaran dilakukan secara lisan (Tarigan, 1991).

Daftar pustaka

Djiwandono, soenardi.2011.Tes Bahasa Pegangan bagi Pengajar Bahasa. Jakarta: PT Indeks.
Sunaendar, dadang dan Iskandarwassid. 2008. Strategi Pembelajaran Bahasa. Bnadung: PT Remaja Rosdakarya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar